Jumat, 11 April 2008

ruang kreatifitas

cerpen
MARIA atau Maria?

Dj.Kurniawan

Sunyi, sepi menghiasi ruangan ini, dan aku tenggelam dalam diam. Seribu tanya ku pendam saja dalam hati kecilku karena tak mungkin kuperoleh jawab. Aku ingin segera menghitung langkah lalu pergi meninggalkan ruangan ini, tapi itu tak mungkin karena aku belum tahu di batas mana ku harus berhenti. Aku tetap diam dan berharap sang arca menjawabnya. “ ibu, pada mimpimukah harus kuletakan cinta ini? Aku tahu ini jalanmu, namun aku belum menemukan batas agar bisa berhenti dan beristirahat?” sang arca tetap diam dalam keagungannya. Akupun terdiam?
Tiga tahun yang lalu, maria, melatiku yang cantik menghiasi diary hidupku. Dia seorang gadis lugu dan baik hati yang pernah ku kenal. Hatiku menyatu dengan hatinya pada suatu ketika di sebuah acara sekolah. ”maria.. telah sekian lama kuhitung bintang dan menyelam dalam gelab meski aku tahu takkan kutemukan mutiara dalam kegelapan itu. Tapi kini aku percaya bahwa tidak setiap gelab tak memiliki kesempatan untuk memperoleh cahaya.....kamulah cahaya itu” saat itu hatiku memasuki ruang hatinya.
Tiga tahun semuanya telah berlalu. Dalam keheningan ini, aku masih bermimpi tentang Mariaku yang cantik, lugu dan lembut. Kepada sang arca aku hanya bisa berteriak “ dimana Mariaku sekarang ? kembalikan aku padanya, mengapa dulu aku kau curi dari pelukannya? Apakah engkau cemburu? “ ruangan semakin hening, cahaya lilin manya mampu menerangi sisi luar hatiku, tetapi aku tetap gelap. “ aku tahu, segala yang terjadi dengan diriku saat ini adalah kehendakmu, dan jalan yang kutempu ini adalah jalanmu. Tetapi, jalanmu tertalu jauh dan sempit. Aku tak dapat melihat ujung jalan ini. Meski aku dalam bimbinganmu, tetapi aku tak tahu kemana aku kau bawa. Kata sahabat-sahabatku, aku sedang kau bawa ke tempat yang memberi aku begitu banyak kebahagiaan. Tapi aku heran karena kita belum tiba di tempat yang menurutmu penuh dengan kebahagiaan. Aku menyesal karena aku kau jauhkan dari Mariaku yang cantik. Padahal, tinggal sesaat kami akan menikah. Saat itulah aku yakin akan menemukan kebahagiaan”.
Ruangan semakin hening, tinggal desah napas antara sesal dan berharap. Sesal karena bagiku masa lalu adalah sesuatu yang membahagiakan bila terus dijalani saat itu. Berharap sang arca menjawabku. Sang lilin semakin meleleh, sebantar lagi akan habis, namun aku belum menemukan jawaban. Aku takkan pernah berhenti menunggu dan menunggu sampai sang arca membuka suara meskipun itu sesuatu yang konyol. Kini yang ada hanya diam, dan kesunyian semakin memperkeras nyanyiannya. Aku terus menunggu
“ aku tahu kau pasti kecewa dengan kebahagiaan yang telah kau miliki dahulu namun kuambil dari padamu. Aku juga pernah mengalami hal yang serupa dengan mu. Saat itu umurku 12 tahun” sang arca mulai bicara “saat itulah pengalaman pertamaku sebagai seorang gadis remaja. Ada perasaan cinta tumbuh dalam diriku. Ada hasrat untuk bisa berpacaran seperti para gadis seusiaku. Sungguh sebuah masa yang indah dan penuh kebebasan. Siapapun tak ingin masa itu berlalu cepat dari hidupnya. Namun, ketika aku masih menginginkan saat-saat seperti itu, justeru aku harus menanggung aib secara misterius. Seseorang datang padaku dan mengatakan bahwa aku akan mengandung dari Roh Kudus. Aku tak pernah berpikir bahwa itu akan terjadi. Lalu aku bertanya kepadanya “ bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi karena aku belum bersuami?” orang itu menjawab “Roh Kudus akan turun atasmu, dan menaungi engkau hingga engkau mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki” tapi aku masih muda. Tahukah engkau bagaimana aku menjawab tawaran itu? “sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak Mu”
”lalu apa kaitannya dengan aku?, aku hanya menginginkan untuk bisa kembali pada Mariaku yang lama. Aku ingin menjaganya agar ia tak dicuri orang dari ku. Dialah wanita tercantik yang dapat membantu aku menemukan arti kelaki-lakianku. Saat ini, beri aku jalan untuk keluar dari penjaramu lalu berjalan dengan jalanku sampai aku menemukan batas perjalananku bersama Maria, melatiku yang cantik.
“engkau tahu apa yang terjadi setelah aku menjawab ‘YA’ atas tawaran itu? aku menjadi orang yang paling bahagia diantara sekalian banyak orang di muka bumi ini. Dan segala bangsa menyebut aku yang bahagia, karena perbuatan besar yang dikerjakan Allah bagiku. Tak seorangpun dapat merampas kebahagiaan itu dari padaku, tetapi aku justeru dapat membagikannya kepada siapapun yang aku inginkan. Itulah kebahagiaan yang tak punya batas ruang dan waktu. Aku tidak pernah menggugat Pribadi yang mencuri aku dari masa mudaku.
Seribu gugat muncul dari benakku tentangnya. “ hey...... apakah engkau masih bahagia dengan tak menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak-anakmu? Tidakkah engkau tahu bahwa seorang wanita dipanggil untuk meninggalkan kedua orangtuanya dan bersatu dengan sang lelaki yang akan menjadi suaminya? “
“kau benar. Seharusnya kau juga tahu bahwa viatku telah menjadikan aku ibu dan isteri bagi sekian banyak kaum beriman. Segala keturunan menyebut aku ‘yang bahagia’
sang arca kini diam dalam senyum agung penuh kemenangan. Apalagi yang mau dikatakannya karena segala yang ia inginkan telah diperolehnya. Ruangan semakin sunyi. Tinggal gelap malam dan suara detik menemani aku. “ hey.... tak maukah kau mengalami seperti apa yang aku alami”.
Aku merenung dalam sunyi, ruangan ini menjadi semakin sepi, cahaya lilin kian meredup. Tak sesuatupun bersuara menanti sang hati membuat keputusan. MARIA atau Maria? Dua wanita penuh pesona yang memberi arti bagi hidupku. Aku mencintai MARIA tetapi aku tak dapat melepaskan Maria? Kini tinggal malam dan aku yang berdialog dengan sang hati kemana jiwa ini harus pergi? Tak mungkin kutunda sampai esok apa yang kulakukan malam ini. Ini saat terakhir bagiku untuk memilih apa yang terbaik bagiku.
Mariaku yang cantik kini jauh di desa tak mungkin untuk kembali padanya dan menunjukan arti seorang laki-laki bagi seorang wanita. Malam ini dia tak dapat hadir bersamaku di ruangan ini untuk menanti keputusan yang akan aku buat. Hanya sang arca yang tetap tersenyum dalam sunyi malam penuh sabar menunggu jawabku. Jubah putih yang tergantung disudut ruangan juga menanti jawab. Dalam hatinya ia berharap untuk takditinggalkan. Tinggal sesaat lilinpun akan meleleh dan padam. Haruskah ku biarkan dia padam tanpa sedikit arti yang keperoleh dari nyalanya?
Tidak. Aku ingin membuat apa yang tersisa ini menjadi berarti untukku, untuk sang arca yang setia menunggu, untuk sang lilin yang setia menerangi, dan untuk sang malam yang memberi aku ruang. Aku bangun dari dudukku dan menatap senyum agung sang arca dan viatnya. “ sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan Mu” malam semakin sunyi dan lilin tak bernyala lagi. Semua telah kembali. Jubah putih pun tersenyum menanti sampai esok ia kukenakan lagi.
Cinta Maria kubuang jauh karena MARIA ku telah membuat aku lebih berarti.

Malang, januari 2008.

Tidak ada komentar: